Instant! Identik dengan cepat dan praktis. Segala sesuatu yang instant merupakan hal yang favorit sekarang ini. Mereka yang tidak mempunyai banyak waktu atau kepedulian yang tinggi akan suatu detail akan sangat menyukai hal-hal yang instant. Mi instan, ataupun makanan instant lainnya bahkan minuman instant dirasa menjadi pilihan terbaik para ibu-ibu rumah tangga yang tak punya lagi banyak waktu untuk sekedar membuatkan sarapan untuk anaknya. Mudah saja kan? Cukup dengan 3 menit sepiring mi instant atau bubur instant telah tersaji di depan anak-anak mereka. Cepat, praktis dan efisien (menurut mereka)
Tapi coba lihat gizinya? Meskipun digembor-gemborkan bergizi tinggi, kita semua rasanya juga tau kalo makanan dan minuman instant itu penuh dengan bahan-bahan pengawet yang bisa membahayakan tubuh. Tapi sekali lagi, kecepatan dan kepraktisan penyajian menjadi alasan bagi orang-orang yang rata-rata bersifat malas.
SERING orang tua bertanya, mengapa watak, kemampuan, dan perilaku anaknya yang sekarang sekolah di SMA "tiba-tiba" tampak berbeda dengan teman-teman lainnya, padahal ia mengalami masa kecil yang sama dengan teman-teman pada umumnya? "Bukankah anakku juga minum susu, makan nasi, daging, juga buah dan sayur, plus ice cream, bahkan multi vitamin?" Pertanyaan itu terus berlanjut. Mengapa anak tetanggaku jadi anak penurut sedang anakku sangat pemberang, anak tetanggaku selalu tersenyum sedang anakku selalu cemberut, anak tetanggaku bisa sangat bandel sedangkan anakku mudah menangis, anak tetanggaku bisa menyanyi dengan suara merdu sedang anakku bersuara sumbang, anak tetanggaku bisa pintar melukis sedang anakku suka mebuat grafiti di tembok rumah? Anak tetanggaku selalu menjadi juara kelas sementara anakku suka tawuran? Apakah ini karena takdir? Kalau begitu mengapa takdir baik selalu jatuh pada orang lain, sementara takdir jelek selalu pada diri saya?
Pertanyaan gugatan di atas mencerminkan, bahwa kita lebih suka melihat kepada hasil yang dicapai daripada proses. Kita sering tidak peduli pada proses karena maunya cepat jadi atau ingin instan, maka yang ditempuh adalah jalan pintas. Hasilnya adalah anak seolah-olah bisa; padahal yang terjadi adalah sesuatu yang semu, palsu dan lebih pada ambisi orang tua, bukan kebutuhan anak.
Kalo boleh saya bilang, dari semua golongan usia, anak-anaklah yang mengalami penderitaan paling besar. Penderitaan secara psikis.
Orangtua pada jaman sekarang ini rasanya kurang punya andil dalam tumbuh kembang anak. Sedari kecil, sang anak sudah mendapatkan"pelayan khusus" yang akan menangani semua kebutuhannya. Oke, mungkin memang semua kebutuhannya terpenuhi. Tapi kebutuhannya akan cinta dan kasih sayang orangtua itu nol besar! Dia lebih menjadi anak pembantu daripada anak anda. Cobalah berkata-kata padanya, rasanya dia akan lebih nurut sama pembantu daripada sama anda.
Lalu saat dia masuk sekolah. Gampang saja, pilih sekolah favorit, mahal tak apalah. Yang penting (setahu anda), anak anda akan jadi anak yang baik dan pintar. Padahal... gak semua anak yang bersekolah di sekolah yang bermutu tinggi tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar, oke mungkin memang sekolahan seperti itu menunjang mereka untuk menjadi anak baik tapi semua lebih kepada individu masing-masing anak. Karena tidak pernah mendapat perhatian khusus dari anda, bisa saja dia menjadi anak yang nakal, yang tidak lebih itu hanyalah salah satu cara dia untuk mencari perhatian anda!
Setelah dia lulus, anda masih harus membebani mereka dengan "harus-masuk-sekolah-favorit (lagi)", padahal sebenarnya anda tidak tahu potensi anak anda seberapa. Tapi sekali lagi, orangtua biasanya hanya bisa memaksakan, mau praktisnya saja dan lebih meninggikan gengsi di masyarakat. Mereka akan dengan bangga menceritakan anaknya sekolah di sekolah A, tanpa tahu betapa tertekan anaknya saat mencoba menembus masuk sekolah itu. Sang anak harus dibunuh perlahan dengan ambisi orangtuanya sendiri.
Itu mungkin masih mending, bagaimana dengan anak dari keluarga miskin?
Mungkin dia tidak diharuskan masuk sekolah mahal, mereka masuk sekolah biasa saja. Tapi coba bayangkan... yang namanya sekolah itu (apalagi sekolah di Indonesia), dikit-dikit pasti duit. Adalah iuran ini, iuran itu, bayar buku ini, bayar buku itu.
Orangtua dari keluarga menengah ke bawah kadang kurang peduli dengan hal ini. Misalnya, minggu lalu anaknya udah minta uang buat beli buku. Eh minggu ini minta lagi. Orangtua lalu akan mengomel, "tiap minggu beli buku!", padahal rasanya dia juga tau kalo sekolah itu bukan hanya mengajarkan satu mata pelajaran tapi beberapa, dan itu juga yang membuatnya butuh beberapa buku dan biasanya disaat yang bersamaan (awal tahun ajaran), sang anak yang sebenernya udah mempunyai niat belajar tinggi jadi down seketika karena harapannya untuk dibelikan buku pupus sudah. Di sekolah lebih parah lagi, dia harus menanggung rasa malu karena mungkin dia sendiri yang tidak mampu membeli buku. Disaat pelajaran dia hanya bisa melongo melihat temannya menyimak buku itu, syukur2 ada yang mau berbagi buku itu di kelas. Ketika ada pekerjaan rumah dari buku itu lagi-lagi dia akan mempertaruhkan harga dirinya untuk meminjam buku itu dan mungkin harus menerima pertanyaan tidak enak tentang mengapa dia tidak beli buku, atau penolakan bahkan ejekan.
COBA KALIAN BAYANGKAN? Rasanya menjadi minoritas sewaktu masih kecil. Dia tidak bisa apa-apa, dia harus menanggung malu, dan orangtuanya bahkan tidak peduli. Jadi jangan salahkan jika akhirnya dia menjadi anak yang pemberang dan bodoh. JANGAN SALAHKAN!
Mereka hanya anak-anak. Semua rezeki yang mengalir dari Allah melalui kalian adalah rezeki mereka. Adilkah ketika anak mendoakan kalian sehabis sholat agar kalian selalu sehat, agar kalian lancar rezeki-nya dan dia bahkan masih harus merasakan penderitaan hidup karena keegoisan anda akan materi? Adilkah ketika anak anda sudah mencoba memberikan yang terbaik tetapi anda tidak pernah menilai usahanya, kalian semua hanya selalu melihat hasil akhirnya. Adilkah ketika dia hanya bisa mendapat amarah anda, padahal bahkan tak sekalipun anda meluangkan waktu untuk sekedar menemaninya belajar? Dan ADILKAH kata-kata "JANGAN DURHAKA PADA ORANGTUA" kalo kenyataannya kami cuma SUBJEK AMARAH, kami cuma dituntut menjadi baik, kami cuma dimarahi tanpa peduli pengorbanan apa yang telah kami berikan? Kami tidak pernah dihargai seperti yang kami mau, kami tidak pernah didengarkan karena kami masih kecil, kebahagiaan kami hancur karena keegoisan orangtua, mimpi-mimpi kami hilang karena ambisi orangtua.
Kami tidak boleh durhaka, tapi kenapa orangtua boleh durhaka kepada kami?
Note: seperti APAPUN anak anda! Sadarilah bahwa ITU SEMUA HASIL DIDIKAN ANDA! Bukan karena lingkungan. Jika diibaratkan mendidik anak adalah ujian sekolah, liat baik-baik pada anak anda, itulah "nilai" anda!

*courtesy of Tugas DKV 3*





0 komentar:
Posting Komentar